Teruntuk Almarhum Bapak Kosmara,
Aku memulai tulisan ini dengan semacam entah...
Sebab ketika aku sedang merindukan seseorang, perasaan dan logikaku selalu membawaku pada sebuah atmosfir yang disebut apa, akupun tak tau?. Sebab rindu itu selalu menyeretku pada sebuah ruang yang entah. Namun, sesuatu yang pasti, beliau akan marah jika aku rindukan. Sebagian orang beruntung pak, hanya terpisahkan jarak dan waktu. Sementara kita terpisahkan dimensi yang berbeda.
Apa Kabar Pak ?, semoga bapak baik-baik saja disana. Aku membawa kabar gembira untuk bapak. Sekarang aku sudah semester 7, kuliah di STKIP Siliwangi Bandung. Judul Proposal penelitianku baru saja diacc pak. Do'akan aku ya pak, semoga aku segera mendapatkan sebuah lebel bernama sarjana. Oh...iya pak, aku mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, terinspirasi dari bapak.
Sejak pertama kali aku berada di kelas bapak, barang sedetikpun aku tidak mau beranjak dari kelas Sastra Indonesia. Jujur saja pak sewaktu SMA, aku mengambil jurusan Bahasa tidak lain hanya menghindari mata pelajaran yang berbau hitung-hitungan.
Aku beruntung mendapatkan guru yang luar biasa seperti bapak. Kelas akan hening ketika bapak berbicara. Kami serasa mendengarkan dongeng sebab ketika bapak memaparkan materi seolah-olah terdengar seperti sedang bercerita. Bapak menyampaikan materi dengan cara yang berbeda. Seolah-olah, sama seperti alunan musik yang selalu menemukan pendengarnya. Terima kasih pak satu semester yang singkat namun tetap memikat.
Hal yang paling berkesan hingga detik ini, sangat banyak Pak. Salah satunya adalah ketika bapak menyuguhkan cerpen berjudul "Bulan di Atas Rumah Sakit, karya Edi Warsidi". Saat itu aku menjadi sukarelawan, langsung mengacungkan tangan bersedia membacakan cerpen itu. Aku membaca cerpen itu dengan intonasi yang dibuat-buat agar menyenangkan dan sesuai konteks cerita. Intinya sih meniru agar efek menyenangkannnya sama seperti bapak memaparkan materi. Dengan harapan intonasiku penuh estetika seperti bapak hehe...
Bapak ingat tidak di dalam cerpen tersebut ada penggalan lagu dangdutnya Bang sms siapa ini bang, kok pesannnya pake sayang-sayang. Aku membaca penggalan lagu dangdut itu dengan nada nyaris sangat datar. Lalu Anisyana spontan berteriak "Ko..gak dinyanyiin hehe" (dengan tawa menggoda). Aku terdiam dan seisi kelas tertawa. Jika aku nyanyikan barangkali akan menimbulkan gempa vulkanik dan tektonik. Atau barangkali gunung puntang yang selalu terlihat cantik di SMAN 1 Soreang akan kembali menjadi gunung aktif walaupun telah lama menjadi gunung mati hehe...
Aku mematung tidak bersuara, kemudian bapak berkata "tidak apa-apa lanjutkan saja" Diikuti degan senyum tipis yang secara pragmatik mengandung arti tidak perlu dipermaslahkan. Setelah selasai membaca cerpen itu aku mendapatkan tepuk tangan yang meriah. Apakah bapak masih mengingat semua itu?
Namun dibalik itu semua, bukan soal meriahnya tepuk tangan Pak. Ada semacam perasaan yang sulit dideskripsikan ketika bertemu dengan makna di cerpen itu. Sebab aku tidak mau bernasib sama dengan tokoh di cerpen itu. Seperti yang bapak sering katakan "Takdir bisa ditolak dengan Doa dan usaha". Semenjak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan terus belajar lebih banyak lagi dan melangkah lebih jauh lagi serta tidak lupa melibatkan Tuhan disetiap perjalanan. Aku hanya bisa melayangkan Doa kelipatan kelangit ke-7 untuk bapak. Terima Kasih, karena telah memberikan banyak inspirasi. I Learn everyting from you...
Selamat, Hari Guru Yaa Pak π
Salam Hormat,
Fitri Nurlaela
Selamat, Hari Guru Yaa Pak π
Salam Hormat,
Fitri Nurlaela
Comments
Post a Comment